Pantauan Radar, jembatan bambu sepanjang 25 meter dan lebar 2 meter itu, hanya diperuntukkan untuk membantu lalu lintas para pejalan kaki dan pengendara roda dua. Sedangkan untuk kendaraan besar tetap dialihkan ke jalan alternatif lain. Selain digunakan masyarakat umum, jembatan darurat ini, juga menjadi jalur utama bagi para pelajar yang bersekolah di kota Kecamatan Gantar dan Haurgeulis.
Kabid Jembatan Dinas PU Bina Marga, Suwenda A mengatakan, jembatan darurat dibangun agar tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat, terutama aktifitas ekonomi dan sosial. Proses pembangunan sudah dimulai sejak tiga hari pasca ambrolnya jembatan Mbah Jebor. “Ini hanya bersifat sementara. Insya Allah, awal tahun depan jembatan permanen segera dibangun,” ujarnya.
Namun, Suwenda belum berani memastikan waktu pelaksanaan pekerjaan pembangunan jembatan waduk Cipancuh akan direalisasikan. “Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, termasuk di dalamnya dilakukan tender untuk menetapkan siapa pelaksana pembangunannya,” jelas dia.
Rencananya, dibutuhkan biaya sebesar Rp650 juta untuk membangun jembatan yang baru. Pasalnya, konstruksi jembatan baru lebih panjang sekitar 24 meter dari sebelumnya yang hanya 12 meter dengan lebar tetap 5 meter. Panjangnya jembatan, lantaran badan jalan yang lama habis tergerus air.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Wargi (45) menyarankan agar pembangunan jembatan pengganti dibuat dengan kontruksi yang kuat serta tahan bencana. Dinas PU Bina Marga nantinya harus tetap mengawasi dan memantau pelaksanaan pembangunan jembatan permanen oleh kontraktor. Sebab dikhawatirkan pembangunan jembatan dibuat asal-asalan.
“Karena sudah bukan rahasia umum, banyak pelaksana proyek hanya mencari untung. Sementara kualitas pekerjaan jauh dari harapan. Jadi, jangan sampai pembangunan jembatan yang baru mudah rusak. Ini jelas yang rugi masyarakat,” tandasnya. (kho)

0 komentar:
Posting Komentar